Monday, March 28, 2005

If Only

Image hosted by Photobucket.com

He loved her like there was no tomorrow

Bagaimana rasanya kalau orang yang kita cintai meninggal di hadapan kita tanpa kita sempat berbuat apa pun untuk menolongnya? Dan seandainya kita diberi kesempatan untuk mengulang sehari terakhir bersamanya, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal yang sama terulang? Pertanyaan inilah yang dihadapi Ian Wyndham (Paul Nicholls), seorang eksekutif muda yang ambisius. Walaupun dia sangat mencintai Samantha (Jennifer Love Hewit), tapi fokus utama adalah karirnya. Dia juga bukan tipe romantis yang peduli dengan segala detail kecil tentang Samantha. Dia bahkan lupa dengan konser kelulusan Samantha (yang telah ditunggunya selama 3 tahun) kalau tak diingatkan oleh gadis itu.

Sampai akhirnya mereka berpisah setelah bertengkar sengit karena Samantha merasa dia hanyalah prioritas kedua untuk Ian. Sayangnya itu adalah pertengkaran terakhir mereka, karena tepat di depan matanya, Ian menyaksikan taxi yang ditumpangi Samantha bertabrakan dengan sebuah mobil. Ian yang sangat terpukul kembali ke rumahnya dan membuka diary Samantha. Disitu ditemukannya lagu ciptaan Samanta yang didedikasikan untuk Ian, tapi tak pernah berani ditunjukkan gadis itu karena takut Ian akan menertawainya.

Dengan penuh penyesalah Ian tertidur. Bayangkan betapa terkejutnya dia sewaktu pagi besoknya mendapati Samantha tidur di sebelahnya. Dengan cepat Ian menyadari kalau waktu telah terulang kembali. Tapi ada sedikit perbedaan dengan hari kemarin (detail - detail kecil yang awalnya gak dianggap penting oleh penonton, so watch this carefully). Sudah pasti Ian berusaha mencegah hal yang sama terulang kepada Samantha, tapi dengan cepat Ian menyadari kalau dia tak bisa mencegah takdir. Dia hanya bisa membuat hari terakhir mereka sebagai hari yang paling mengesankan.

Awalnya sih gua gak berharap banyak sama film ini. Soalnya banyak yang rekomendasiin nih film ke gua dan kalo kayak gitu biasanya gua jadi males nonton (contohnya aja ya "The Notebok"). Tapi gua mengakui kalo gua salah. Film ini termasuk salah tipe yang worth to watch lah.

Gua suka sama endingnya yang gak terduga (walopun sekian menit sebelum klimaks, akhirnya loe bisa nebak sih, tapi di awal pasti gak diperkirakan ) .
Trus juga, gua suka sama aktornya, Paul Nicholls. Sekilas pandang sih biasa aja, dua kilas pandang juga masih biasa aja. Waktu 3 kilas udah mikir oh lumayan lah , waktu 4 kilas berpikiran : eh..rada mirip Jude Law ya walo masih cakepan Jude Law , dan setelah sekian kilas pandang : Cakep juga ya!!

Cuma ada 1 hal yang gua sayangkan dari film ini : Kenapa aktris nya musti Jennifer Love Hewitt??? Kayak gak ada yang lain aja. Masalahnya keliatan kurang cocok. Si Hewitt keliatan ketuaan buat Paul Nicholls.

Yah nih film ngajarin 1 hal yang sama dengan yang digembar gemborkan Ronan Keating lewat lagunya : Tell to someone that you love what you're thinking of if tomorrow never comes.